The Content


Hari itu, tim kami bertambah satu orang lagi, bernama Ariel. Tidak seperti saya, Ariel tidak butuh waktu berhari - hari untuk beradaptasi dengan lingkungan. Dia sudah aktif berbicara dengan karyawan lainnya. Terlebih Ariel adalah teman dekat Inggrid.

" Nggrid, gue mau sholat dulu ya dibawah " Izin saya ke Inggrid

" Ngomong sama bapak lo lah, ngapain sama gue " jawab Inggrid santai,

Entah kenapa saya lebih nyaman izin ke Inggrid daripada dengan Surest, walaupun Surest duduk di sebelah Inggrid.

" Eh, mau sholat ya.. ikut dong " Kata Ariel ke saya.

" Ya udah ayok "

" Surest, we want to pray on the downstairs " Izin saya ke Surest.

" Sure.. this is startup, you can do anything what you want " Jawabnya santai.

Saat diperjalanan menuju masjid. Saya sempat berbincang dengan Ariel.

" Lo diem mulu dah dari tadi " tanya Ariel,

" Masa sih? "

" Iya, lo orangnya pemalu ya ? rileks aja kali "

" Lah, kan elu yang orang baru, ngapa gue yang dibilangin begitu ".

" Hahaha, ya elo sih diem mulu ".

" Takut salah ngomong gue " jawab saya merendah.

" Hahaha " Ariel tertawa padahal saya tidak sedang melucu.

Setelah sholat, kami kembali ke kantor dan lanjut membuat konten.

Jika kalian mendengar kata konten didalam Startup, apa yang kalian bayangkan? konten website? konten iklan? atau konten berita?. Apapun yang kalian pikirkan tentang konten diatara yang saya sebutkan tadi, pasti bukan tugas saya. Karena tugas saya sebagai content creator adalah membuat konten postingan fake!.

Saya tidak tau apakah facebook ketika starting juga menggunakan cara ini atau tidak. Tapi di Nearcircles, kami menggunakan postingan/update status fake di aplikasi sehingga user baru ada contoh seperti apa postingan yang harus mereka buat.

" For make it to crowded " kalo kata Surest.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya. Nearcircles adalah sosial media berbasis area, yang mana postingan kita hanya bisa dilihat se kecamatan.

" Connecting to neighborhood " Ujar Inggrid tentang slogan Nearcircles.

Oleh karena itu, konten postingan fake yang kami buat harus mengandung hal yang bermanfaat untuk tetangga. Seperti informasi keadaan jalan, event terdekat, atau rekomendasi tempat. Jadi user baru tertarik untuk berbagi informasi juga.


( Contoh Postingan )

Namun karena kami harus membuat 50 konten per orangnya setiap hari. Kadang konten yang bagus dan bermanfaat hanya sekitar 35 konten. Sisanya mulai maksa. Apalagi untuk saya yang baru tinggal di Jakarta. Tau daerah juga enggak, mau berbagi informasi.


" Anjir, ini siapa yang buat postingan berenang di lakupon? " Tanya Nadya saat kami sedang fokus membuat konten dengan leptop masing - masing.

" Gue " Jawab saya santai.

" Buahahaha " Tawa Ariel setelah melihat postingan saya " Lakupon itu setau gue jualan tiket deh bukan kolam berenang ".

" Mana sih kepo gue " Ujar Inggrid kemudian melihat postingan saya dari hp nya " Hahahaha.. dasar bege! lakupon itu website jualan tiket, bukan kolam berenang hahahaha ".

" hahaha, Emang lo dapet darimana sih jar? " Tanya Gery.

" Gue dapet dari google maps, gue nyari tempat wisata, dapetnya lakupon ".

" Wahahaha, bangsat uga google maps " Tawa Ariel makin jadi.

Selain membuat konten postingan fake, kami juga harus membuat 20 komentar ke at least 2 - 3 postingan. Supaya lebih terlihat interaktif. Oleh karena itu terkadang kami bingung ingin komentar apa ke postingan yang hanya memberikan informasi daerah. Masa iya 20 komentar isinya " nice inpoh " semua. Jadi secara inisiatif saya, Ariel, Inggrid dan Nadya ( Gary tidak ikut karena dia handle social media ) membuat postingan dengan konflik dadakan.

Contoh Postingan :

(Ariel as Yanto) Sebagai manusia, kita harus saling menjaga tali silaturahmi antar sesama tetangga, Yuk bagi saudara - saudaraku yang ingin silaturahmi, saya akan mengadakan arisan mulai malam minggu ini dirumah.

Komentar :

(Nadya as Aan) Pak Yanto ini orang RT 03 ya? saya mau ikutan dong pak arisannya, tapi kalo bisa diundur malem senin dong pak? soalnya saya baru ada uang untuk arisan malem senin?

(Ariel as Yanto) Iya saya orang RT 03 pak Aan, ini benar dengan pak Aan tukang sarung keliling itu ya?

(Saya as Febri) Eh, ini Yanto codet bukan? inget gue ga ntok, kawan SMP lo?

(Ariel as Yanto) Maaf, sepertinya mas Febri salah orang deh

(Saya as Febri) Nggak lah, bener gue.. lo yanto yang dulu suka sama Tarijah anak kelas sebelah kan? masih inget kok gue.. kan yang bantu lo pdkt dulu gue ntok, masa lupa sih?

(Ariel as Yanto) Tarijah mana ya?

(Saya as Febri) Tarijah, yang dulu kalo dikantin suka makan nasi uduk pake kratindeng, parah lo masa lupa

(Inggrid as Tarijah) Assalamualaikum semua, feb, kamu salah orang deh. Yanto codet ga di Indo lagi, sekarang dia udah di Malaysia bisnis jeruk nipis. Dan tolong STOP! ngegosipin saya, saya sekarang sudah berkeluarga feb. Takutnya nanti anak saya yang paling bontot ngedenger gosipan kamu. udah ya feb, aku capek.

(Ariel as Yanto) *read*

Hampir setiap sore menjelang pulang kami menghabiskan waktu hanya untuk main konflik dadakan seperti itu. Untungnya Surest tidak pernah mempermasalahkan kami dengan hal itu. Tapi kayaknya karena dia nggak bisa bahasa Indonesia aja deh, hahaha. Nanti lagi ya ceritanya, Yanto out!

1 komentar: