Setelah selesai interview, saya kembali ke Palembang untuk menyelesaikan semua urusan sebelum menetap di Jakarta. 15 hari berlalu. Saya kembali ke Jakarta dan mencari kosan dekat rumah Dimas di daerah Jakarta Barat. Kenapa tidak di cari di daerah Sudirman? Karena pertama, mahal. Kedua, supaya kalau tiba - tiba saya mati ada yang ngurusin.
Keesokan harinya, saya yang belum pernah ke Jakarta mencoba menggunakan jasa Commuter Line (CMT) menuju stasiun Karet. Stasiun dekat kantor saya di Cityloft. Saya mendapatkan informasi dari Dimas bahwa CMT adalah transportasi paling murah dan statiunnya dekat dengan kosan.
" Pokoknya kalo lo mau keliling Jakarta bisa naek CMT aja, tiketnya ga sampe goceng, kalo lo nyasar pesen gojek, kalo ada apa - apa kerumah gue aja ". Ujar Dimas.
Sedikit informasi tentang Dimas. Dia adalah sahabat saya ketika di Palembang sebelum Dimas melanjutkan kuliah di Jakarta. Saya mengenalnya saat kami sama - sama menjadi anak baru di komunitas Stand Up Palembang. Walaupun dia tidak lucu dan saya lucu, kami dapat menjadi teman akrab. Sungguh bukti pertemanan tidak mengenal perbedaan.
Sesampainya saya di stasiun karet, saya bisa melihat cityloft dari luar stasuin. Namun saya tidak ingin ke sana hari itu. Kemudian saya membuka google maps, melihat tempat wisata apa yang bisa saya kunjungi yang berada dekat dengan stasiun karet.
Grand Indonesia!
Modal intuitif, saya jalan kaki menuju GI dari stasiun karet. Saya rasa jaraknya cukup dekat untuk jalan kaki. Dan ternyata benar, keringat hasil panas matahari yang becucuran tidak terasa karena saya benar - benar seperti orang hutan yang datang ke kota dan terpesona, sibuk melihat kanan dan kiri sampai lupa panasnya dunia dan saya sudah sampai di GI.
Saya keliling GI yang tingginya ampun - ampunan. Setelah melihat tingginya GI, saya merasa benar - benar seperti orang kampung. Saya kira, Palembang yang sudah menyatakan kota internasional cukup membuat saya menjadi orang gaul Indonesia. Namun, setelah melihat GI, mall terbesar di Palembang ga ada apa - apanya. Ibarat GI itu Rumah, Mall terbesar di Palembang hanya seperti R (analogi huruf, paham lah ya).
Setelah capek keliling, saya istirahat di starbuck GI (saat itu masih zaman belum tau bangsatnya biaya hidup di Jakarta). Sambil melihat keadaan starbuck GI yang ramai berbagai macam orang. Baik pribumi maupun WNA, baik orang dewasa sampai anak TK pulang sekolah, Saya menelpon Putra, sahabat baik saya di Lampung. Menceritakan pendapat saya tentang Jakarta yang menyenangkan. Kota fana cinta dunia yang nyata dan tidak naif. Saya sangat suka kota ini, orang bekerja memenuhi ambisi, tidak ada senyam senyum berlebihan, semua sibuk, semua fana. Terimakasih sambutannya, Jakarta, Indonesia, Asia, Dunia, Semesta.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar