Selamat Datang Di Incubator Startup Terkecil Di Cityloft


Ramainya kendaraan mondar - mandir berisik dengan klaksonnya. Gedung - gedung tinggi seperti menutupi ramainya kota ini. Saya masih ingat, saat itu cuaca Jakarta sedang dingin sekali. Namun seketika menjadi hangat ketika saya menutup kembali pintu kulkas sevel.

" Udah.. pede aja, namanya juga interview, wajar lah kalo pake baju rapih ". Ujar Dimas menyambut saya yang ikut duduk di kursi sevel.

Saat itu saya mengenakan kemeja lengan pendek dan celana dasar gobor yang bukan saya banget.
" Tapi ini rapih banget, gue bisa pake kaos aja ga sih? "

Mendengar itu Dimas hanya bisa menggelengkan kepalanya, kekanan dan kekiri, soalnya kalo keatas itu mendongak. Just, for make it clear

Jadwal interview saya setengah jam lagi. Kantornya berada di seberang sevel dimana saya berada. Di sebuah apartemen bernama Cityloft. Saya mulai merasa gugup, mulai bertanya apakah pilihan saya pergi dari Palembang ke Jakarta untuk interview ini adalah pilihan yang benar. Meninggalkan gemerlap kota Palembang menuju kota yang lebih gemerlap. Saya pun kembali meneguk pocari sweat yang sedikit lagi habis ditangan. Dimas masih menemani saya menunggu di sevel. Kemudian saya pun bangkit! membanting botol kosong pocari sweat ke meja. Lalu dengan gagahnya saya memotivasi diri saya sendiri. Membisikkan kata - kata bijak ke diri saya sendiri. Lalu berjalan menuju ke kantor yang sebentar lagi akan menjadi catatan sejarah dalam hidup saya.

Cityloft, i am coming!

Sesampainya di Cityloft, saya bertanya kepada security yang menjaga di depan gerbang mobil masuk.

" Pak, Cityloft 1620 dimana ya? "

" Ada apa emang mas, mau interview ya? " Pak Security balik bertanya.

" Iya pak "

" Mas, kalo ada lowongan lain ajak saya dong mas, saya kemaren ngelamar di gedung sebelah tapi belum ada panggilan "

"?????" saya dalam hati.

" Ini aja saya masih interview pak, nanti deh kalo ada, tapi bapak tau dimana cityloft 1620? "

" Kurang tau mas, Mas coba tanya aja ke security bagian dalem ".

Kemudian saya pun membisikkan omongan jorok ke diri saya sendiri.

" Tolong mas ya " lanjut pak Security " soalnya umur saya masih 18 tahun ".

"lah, bodo amat pak" hati saya ngomong lagi.

Setelah bertanya ke security bagian dalam cityloft, saya ditunjukan di mana 1620 berada. Ternyata kantornya berada di lantai 16 nomor 20.

Sesampainya di 1620, saya disambut oleh Inggrid. Saat itu obrolan saya dengan inggrid masih sangat baku, saya sendiri geli jika harus mengingat bahasa formal yang digunakan. Euhhh,,,, (biar lebih terlihat efek gelinya). Kenapa lah, kenapa harus ada bahasa formal untuk orang yang sebentar lagi berteman. Euhhh,,,,

Saat pertama kali masuk kantor, saya disuruh Inggrid menunggu di ruang tamu. Di perbatasan ruang tamu dan ruang kerja ada sebuah pembatas seperti kaca blur. Jadi saya tidak bisa melihat dengan jelas kegiatan kantor saat itu. Namun, saya bisa mendengar keseruan orang kantor, ada yang sedang main game, ada yang sedang nonton video, ada yang sedang mendengarkan musik. Sambil mendengarkan, saya membayangkan sebentar lagi saya akan bekerja di tempat se asik ini. Sungguh anugerah.

Tak lama, ada seorang wanita datang yang kembali di sambut Inggrid bernama Nadya. Nadya ternyata akan interview juga hari ini. Kemudian kami bertiga pun duduk di ruang tamu.

" Jar, lo rapih banget dah? " akhirnya inggrid keluar dari bahasa bakunya.

" Iya " semoga jawaban iya gue menjawab pertanyaan Inggrid. Bingung coy mau jawab apaan.

" Gue aja awalnya mau pake baju serapih ini tapi ga jadi " lanjut Nadya.

" Hebat juga wanita ini ingin interview pake kemeja lengan pendek dan celana panjang gobor " gumam saya dalam hati, hati bagian pengarang kelakar garing.

Saat itu saya hanya diam. Saya sangat pemalu pada saat itu, terlalu takut salah bicara. Seperti ayam sakit kalo kata netizen.

Hingga akhirnya Surest, CEO perusahaan datang dan menginterview saya dan Nadya, SECARA BERSAMAAN. Sampai sekarang saya bingung, itu interview atau nikahan.
Kami pun diterima sebagai pegawai magang di Nearcircles.

Dan secara resmi, saya adalah karyawan KEDUA! Nearcircles Indonesia setelah Inggrid.
Bangsat, saya kira keseruan karyawan yang saya dengar tadi adalah teman - teman kantor saya, ternyata mereka adalah karyawan kantor lain. Dan ternyata, kantor Nearcircles Indonesia hanya sebesar ruangan Surest, dalam artian benar - benar satu ruangan dengan Surest. Jadi Saya, Inggrid, Nadya akan satu ruangan seukuran 6 x 6 m.

Tapi cerita ini belum berakhir, saya akan menceritakan banyak hal yang terjadi di ruangan kecil itu. Ruangan lahirnya Nearcircles Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar