Pizza in Saturday

Di startup, libur di hari sabtu itu seperti mitos. Semaksimal mungkin Surest ingin kami memanfaatkan waktu untuk mengembangkan startupnya, termasuk pada hari sabtu, bahkan minggu sesekali. Seakan besok akan armageddon!. Begitulah semangat startup muda saat itu, lupa kalau lari sprint saat awal lomba marathon adalah tindakan untuk kalah.

Sabtu pagi itu, Ariel dan Inggrid ditugaskan liputan acara Pancasila di suatu tempat. Sementara saya, Nadya dan Gery ditugaskan untuk ke apartemen Surest untuk membuat konten hasil liputan Ariel dan Inggrid.

Dan pagi itu, saya adalah orang pertama yang datang ke apartemen Surest. Karena saya lupa hari itu kami disuruh ngantor di apartemen Surest, sementara saya datang ke kantor seperti biasa. Rasa canggung sudah mulai terasa sejak mengetuk pintu apartemennya. Karena saya rasa diantara semua karyawan Nearcircles, saya adalah orang yang bahasa inggrisnya paling jelek. Saya takut salah ngomong, saya takut dia salah tanggep dengan omongan saya, saya takut armageddon. Hingga tanpa sadar saya sudah duduk di dalam apartemen Surest selama setengah jam tanpa mengatakan satu kata pun kecuali saat Surest bertanya "Are you from the office? how do you get here?" dan saya pun menjawab "walk".

Tak lama Nadya datang. Menyelamatkan kecanggungan.

" Jar, lo ngapain disitu? " tanya Nadya setelah melihat saya duduk dipojokan apartemen dan menghadap tembok.

" Ngecharge hape "

" Emang disini nggak ada colokan? " tanya Nadya sambil melihat sekeliling apartemen Surest.

" Ada, tapi dibelakang kulkas, agak ribet "

Namun karena Nadya adalah wanita yang tangguh, antimainstream dan bisa salto. Ia pun mengambil tantangan tersebut dan menyolokan charger leptopnya dibelakang kulkas. Dan menggunakan leptopnya diatas kompor.

Tak lama Ariel dan Inggrid pun datang dengan foto hasil liputan dan kepala bau matahari.

" Sepi ah, gue kira rame kayak acara aksi sebelumnya " ujar Ariel sambil menghidupkan leptopnya sementara Inggrid melaporkan hasil liputan ke Surest, lebih tepatnya ngobrol sih. Dan yang terpenting adalah Ariel membawa colokan panjang untuk kami semua ngecharge. Jadi kami bisa kembali satu meja di dapur apartemen.

" Guys, gue ada acara nih abis ini.. izin balik boleh nggak ya? " tanya Ariel ke kami.

" Boleh lah, ini kan sabtu " Jawab Inggrid.

Namun ketika Ariel ingin izin pulang ke Surest, Surest meminta tolong Inggrid untuk memesan pizza untuk kami semua. Gimmick untuk rasa nggak enak karena nyuruh kami kerja di hari sabtu.

" After this pizza, you can back to home " ujar Surest.

" Yesss! " teriak Nadya sangat keras seakan baru bebas dari penjara dan seakan tidak ada Surest disana, padahal Surest adalah orang pertama yang menoleh setelah kata yes. Kemudian kami, dan kami tertawa melihat Nadya menutup mulutnya.

Kami pun bahagia dan Ariel pun mengurungkan niatnya untuk pulang.

" Ya udah kalo gitu, nanti aja deh gue balik, nunggu pizza dateng "

Namun, setelah satu jam Inggrid memesan, pizzanya belum kunjung datang. Inggrid pun kembali menelpon tempat pizza, dan ternyata ada kesalahpahaman tentang pilihan pizza, jadi Inggrid pun memesan ulang.

Satu jam kemudian, pizza belum juga datang. Jam makan siang pun hampir habis. Setelah Inggrid konfirmasi lagi, ternyata pesanan Inggrid belum tercatat di tempat pizza entah dengan alasan apa.

Satu jam selanjutnya, pizza masih belum datang. Sekarang kesabaran kami yang hampir habis. dan sudah jam tiga sore.

" Nggrid, pizzanya udah lo pesen belom sih? " Ariel mulai kesal.

" Udahlah " ujar Inggrid " Emangnya gue daritadi ngapain nelpon tukang pizza, mesen combro?".

" Bangsat, tau gini gue balik aja daritadi, makan dirumah.. laper gue "

" Gue juga laper " ujar Inggrid.

Lalu setengah jam kemudian, pizza pun datang. Yang daritadi teriak laper hanya makan satu slices, sedangkan yang daritadi diem (saya), makan tiga slices. talk less, eat more!

Dan hari itu, sabtu libur tetap menjadi mitos. karena kami masih pulang jam lima sore. Sungguh, pizza di hari sabtu, adalah gimmick.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar