Hari Pertama Kerja Di Startup

Mengetahui incubator (kantor) startup berukuran kecil. Tidak membuat saya berfikir buruk. Saya tetap semangat untuk memulai hari pertama saya di Nearcircles. Setelah interview kemarin, saya baru browsing apa itu Nearcircles. Saya tau, harusnya saya browsing tentang Nearcircles itu sebelum interview. Namun yah, maafkan lah ya.

Jadi Nearcircles itu adalah social media berbasis area/neighborhood. Semacam facebook tanpa proses permintaan pertemanan dan yang bisa melihat status kita hanya satu kecamatan. Cukup jelas? Baiklah, tidak perlu kalian download. Lanjutkan membaca.

Hari pertama kerja, saya datang terlalu pagi. Untungnya sudah ada Gery, karyawan baru Nearcircles. Gery mulai bekerja sejak saya berada di Palembang pada saat persiapan ke Jakarta. Saya diajak Gery ke ruangan Nearcircles yang berada dilantai dua, melewati kantor Coconut Reward yang berada dilantai satu dan sebagian lantai dua.

" Gue kira juga semua ruangan 1620 ini punya kita, eh ternyata kita sharing kantor sama kantor sebelah " ujar Gery setelah saya duduk di kursi yang berjejer di ruangan sempit itu.

" Tapi kalo kata Inggrid sih akhir bulan ini mereka bakal pindah, jadi 1620 ini khusus untuk kita " lanjut Gery.

Tak lama Inggrid dan Nadya datang.

" Iya, akhir bulan mereka bakal pindah ke lantai 7, jadi 1620 khusus untuk kita " Inggrid membenarkan ucapan Gary.

" Gue ga sabar deh pengen belanja - belanja peralatan kantor " lanjut Inggrid.

" Dekorasinya kayak kantor Google aja tau, bagus " ujar Nadya.

" Iya, gue juga pengen. Apalagi dekorasi bola yang bisa dijadiin kursi itu, lucu banget " Inggrid makin menghayal.

Sementara saya hanya diam mendengarkan sambil melanjutkan pekerjaan sebagai pembuat konten.

" Nggrid, kantor dibawah itu startup apaan sih? kayaknya main mulu ga pernah kerja " tanya Gery.

" Aplikasi rekomendasi makanan gitu kalo ga salah, keliatannya main mulu, sekalinya kerja meeting sambil makan - makan " Jawab Inggrid seperti pawang " Nanti deh kalo Balia keatas gue tanyain ". Ujar Inggrid, karena Balia dan kawan - kawan sering berkunjung ke ruangan Nearcircles yang saat itu hanya ada Inggrid setelah.

Benar saja, tak lama Balia naik ke atas.

" Bal.. bal.. " panggil Inggrid.

" Apaan? " Tanya balik Balia setelah masuk ke ruangan kami.

" Kantor lo kerjaannya apaan sih? kayaknya main mulu " Tanya Inggrid.

" Hoo iya dong " Jawab Balia jumawa dan kami menyimak " Kantor gue mah kerjaannya jalan - jalan mulu ".

" Kenapa namanya Coconut dah ? " Tanya Gary.

" Wah ini nih, harusnya mas Bagus yang jawab pertanyaan ini. Gue juga bingung, haha " Jawab Balia " Aplikasi tentang rekomendasi makanan, tapi namanya COCONUT. aneh banget. Itu mas Bagus kan jadi marketing. Dia pernah nelpon konsumen, disangka perusahaan santen. sedih banget ".

Kami semua tertawa, kemudian Balia melanjutkan.

" Ada lagi mas Bagus nelpon konsumen, disangka perusahaan Natadekoko ".

Kami kembali tertawa. setelah menyelesaikan ceritanya dan kami semua sudah cukup puas tentang info startupnya Balia. Balia pamit dan kami kembali bekerja.

( Inggrid, Saya, Balia )

Kemudian datang Surest hanya dengan setelan kaos dan celana jeans. Sedikit informasi bahwa Surest berasal dari India, kemudian tinggal di Singapura dan membawa Nearcircles berekspansi ke Jakarta. Dan tidak bisa berbahasa Indonesia.

" Morning guys " ujar Surest sambil berjalan menuju meja kerjanya.

" Morning " jawab kami.

" Fajar, you're here " Lanjut Surest kemudian menjelaskan tentang Nearcircles dan tugas saya sebagai content creator .

" Bapak lo kaosnya jelek banget dah " ujar Inggrid ke Nadya selagi saya ngobrol dengan Surest.

" Tau, belom mandi kali dia " lanjut Nadya.

Kemudian saya kembali ke meja saya, lebih tepatnya meja saya, Inggrid, Nadya dan Gery. Karena kami satu meja berempat. Saya dipinjamkan leptop pribadi Surest selagi komputer untuk saya belum datang. Saya disuruh membaca artikel tentang dirinya yang berprestasi dalam bidang startup.

" Intinya bapak lo pengen pamer " ujar Gery.

Saya pun mengangguk tersenyum.

Inilah indahnya punya bos tidak bisa berbahasa Indonesia, kita bisa ngomongin bos kita didepan mukanya. Tapi suatu saat kami mulai resah karena Surest sudah bisa bilang Kanan dan Kiri. Kami resah bagaimana jika Surest ternyata selama ini hanya pura - pura tidak bisa bahasa Indonesia, Untungnya sampai sekarang keresahan itu tidak terbukti.

Tak lama Inggrid turun kebawah menjemput seorang pria yang akan legendaris didalam cerita saya. Namanya Ariel, yang kelak saya tau dia adalah sahabat dekat Inggrid. Hari itu dia memiliki jadwal interview dengan Surest.

Lebih canggung dari interview saya dan Nadya yang bersamaan seperti nikahan, Interview Ariel didengarkan oleh kami semua. Entah itu interview atau hafalan perkalian didepan kelas.

Saya tidak terlalu mendengarkan apa yang dibicarakan Ariel saat interview, yang saya dengar hanya Ariel sering menyebut kata " Running ".

" Run for what ? " Ujar Inggrid berbisik entah kepada siapa sambil tertawa kecil.

Ariel pun diterima, besok dia akan mulai masuk kerja. Ruangan pun akan semakin sempit, Akhir bulan cepatlah datang.

1 komentar:

  1. Bahahahahahahhahahahaa super mrnghibut. Bagus ceritanyaaaa, ketawan banget ga movr on dari nc

    BalasHapus